Dualisme… Ikhlaslah….

Tanpa kita sadari, didalam kehidupan kita berorganisasi baik itu dalam organisasi kemasyarakatan maupun dalam organisasi bisnis, kita secara tidak sadar dihadapkan pada suatu keadaan yang dinamakan dengan dualisme. Dualisme, menurut pengertian penulis adalah sebuah arti kata yang menggambarkan adanya dua buah kepemimpinan atau panutan didalam sebuah organisasi.

Mungkin Anda akan berpikiran bahwa hal tersebut tidaklah mungkin. Namun hal ini dapat terjadi. Dalam ruang lingkup yang besar, kita melihat adanya dua buah organisasi dari partai besar di Indonesia, yaitu PKB. Disitu, kita dapat melihat, adanya dua buah kepemimpinan di dalam tubuh partai tersebut. Hal seperti ini, sangatlah mungkin dapat terjadi di dalam sebuah perusahaan. Secara resmi, organisasi dipimpin oleh si A. Namun karena keadaan dan berbagai macam faktor, dalam pelaksanaan sehari-hari dipimpin oleh si B. Pertanyaannya, bagaimanakah dengan pegawai atau staff yang ada dibawahnya ? Apakah akan mengikut si A atau si B ?

Mengapa ini dapat terjadi ? Banyak dan bermacam-macam faktor. Ada contoh yang palng gampang. Ada sebuah organisasi yang kesehariannya dipimpin oleh si B, sebagai pemimpin. Namun karena adanya peraturan pemerintah ataupun karena adanya sesuatu hal, mungkin bisa persyaratan organisasi ataupun sebagainya, perusahaan tersebut dipimpin oleh si A. A disini bertindak hanya sebagai dokumentasi saja, bukan yang sebenarnya. Istilahnya adalah pinjam nama. Sekilas mungkin akan kelihatan sepele, tidak akan berlanjut ke permasalahan yang lebih lanjut. Namun, pernyataan tersebut dapat berubah.

Apakah dengan sesimple itu, proses bisnis perusahaan akan dapat berjalan dengan mudah ? Mana mungkin sebuah organisasi dipimpin oleh dua kepala ? Tentu tidak. Permasalahan yang semula hanya satu titik, secara perlahan akan menjadi menumpuk, bahkan bukan titik lagi, tapi sudah menjadi bola. Akan selalu muncul permasalahan-permasalahan baru. Orang pasti akan melihat hal seperti ini adalah akibat dari kebodohan para manajemennya. Tidaklah salah hal tersebut. Hal seperti ini tidaklah akan terjadi jika terjadi adanya keikhlasan dari masing-masing pihak. Mulai dari iklas untuk menerima saran dan kritik, iklas untuk mengakui bahwa dirinya salah dan orang lain benar maupun sebagainya.

Namun jika andaikata, kedua kubu menganggap dirinya masing-masing adalah benar, perusahaan tersebut tidak akan jalan. Bahkan tinggal tunggu waktunya saja, akan hancur. Hancur lebur akibat kebodohan di dalam perusahaan tersebut. Bawahan bingung harus mengikut yang mana, peraturan mana yang harus ditaati, kebijakan mana yang harus dituruti dan sebagainya. Hancur semua. Bagaimana mau menciptakan sebuah suasana kerja yang kondusif jika masing-masing pihak menganggap dirinya adalah benar ? Saling curiga dan menjatuhkan ? Benar-benar perusahaan tersebut bukan sebagai organisasi pembelajar, namun sebagai organisasi penghancur.

Semua kembali ke dalam diri kita masing-masing. Inti dari bekerja adalah cinta dan ikhlas. Bekerja itu adalah cinta. Sebagus-bagusnya pekerjaan kita, ataupun setinggi-tingginya gaji yang kita terima, kalo kita tidak melaksanakan dengan cinta, akan percuma. Cinta terhadap pekerjaan, akan menumbuhkan semangat kerja yang lebih baik. Ikhlas, suatu hal yang sulit untuk dilakukan, namun harus dilakukan. Bekerja dengan ikhlas, akan membuat hati lebih tenang dan dapat lebih menikmati hidup. Semua kembali ke diri kita. Apakah kita mau menciptakan dualisme,dengan berbagai macam alasan ? Atau dengan ikhlas, duduk bersama, berbicaran dan berdiskusi bersama untuk kemajuan perusahaan ? Hanya anda yang memilih… Ciptakan peperangan atau perdamaian ? (heyu)

~ oleh siheyu di/pada Juni 7, 2008.

2 Tanggapan to “Dualisme… Ikhlaslah….”

  1. jd, mana yg lbh baik:
    - pemimpin itu 1, penguasa bolehlah 2
    a t o
    - penguasa itu satu, pemimpin bolehlah banyak

    ????

    yg saia tahu, TUHAN itu satu meski dgn bbagai macam perwujudan

  2. lebih baik semuanya harus satu.. walaupun dengan cara yang bermacam-macam…

Tinggalkan Balasan