Pengelolaan Pengetahuan dalam Perusahaan

Dinamika perkembangan sistem informasi saat ini telah mencapai tingkat akselerasi yang luar biasa. Perkembangan itu sendiri, telah merambah hampir di semua bidang usaha. Perubahan dan perkembangan di dunia usaha lebih dituntut untuk harus semakin lebih baik, seiring dengan meningkatnya standard produktivitas yang ditetapkan oleh sebuah perusahaan. Seiring dengan semakin kompleksnya produktivitas operasional dalam semua kegiatan operasional dan kegiatan administratif lainnya di dalam dunia usaha, maka sebuah perusahaan harus meningkatkan kinerja pelayanan terhadap para konsumennya. Sehingga dengan semakin meningkatnya kinerja pelayanan, maka diharapkan dapat menunjang dan memperlancar proses bisnis dan administratif lainnya.

Untuk itu, perusahaan tidak lagi hanya bergantung pada modal finansial saja, tetapi juga pada knowledge (pengetahuan) sebagai faktor pendukung utama dalam pengembangan sistem informasi. Pengetahuan yang dimiliki oleh seorang pegawai sudah menjadi suatu aset penting dan berharga yang harus dijaga oleh sebuah perusahaan. Perusahaan yang maju dan berkembang harus mampu untuk menjaga serta memanage dengan baik pengetahuan yang ada di perusahaan tersebut. Sayang tak semua perusahaan  memiliki  sistem yang mampu menyerap dan memanage pengetahuan karyawan seperti ini secara maksimal.

Pendekatan knowledge management (KM) memungkinkan hal tersebut berlangsung  dengan baik. Sebab, dalam perusahaan yang menerapkan KM,  sebuah sistem  akan berjalan dengan sendirinya untuk mengatur pengetahuan para karyawannya. Know  what dan know how adalah  pemahaman  tentang  knowledge dalam perspektif KM. Prof. Karl-Erik Sveiby, pakar KM dari Polandia,  menambahkan bahwa knowledge adalah sebuah  kapasitas  suatu tindakan  dalam suatu konteks. Knowledge adalah fakta  dan  aksi, bicara  dan bergerak. Sistem KM akan membuat  knowledge workers, para  pelanggan,  dan staf pendukung  serta  sistem-proses  dalam perusahaan  saling berinteraksi secara simultan, integratif,  dan konsisten.  Bukan itu saja. Secara internal, di antara  knowledge workers  pun akan terjadi interaksi dalam bentuk sharing  ataupun diskusi.  Begitu juga di antara pelanggan, serta  staf  pendukung dan sistem-prosesnya.

Sebagai contoh, dalam sebuah perusahaan sering sekali diadakan pelatihan yang topiknya sering berulang-ulang. Apabila  sebuah KM dapat berjalan, biaya pelatihan  per  orang  yang awalnya terlihat mahal akan terasa ringan. Sebab, sistem  mengharuskannya  berbagi  kepada rekan-rekan lainnya.  Saat  itu  tidak hanya materi pelatihan yang tertransfer, tetapi juga hal-hal lain yang  tak  diperoleh  dalam pelatihan.  Misalnya,  pengalaman  si pentransfer  ilmu. Sementara itu, yang mentransfer ilmu  pun  tak akan rugi, karena makin banyak dan sering ia mentransfer,  pengetahuannya akan makin kokoh.

Berdasarkan kondisi tersebut, banyak perusahaan yang semakin menyadari betapa pentingnya mengelola dan memanfaatkan sebaik-baiknya pengetahuan yang mereka miliki, agar dapat menjadi competitive advantage bagi perusahaannya. Untuk itu penerapan Knowledge Management (KM) menjadi suatu kebutuhan bagi suatu perusahaan. Perusahaan sangat memerlukan KM untuk meningkatkan kemampuan sumber daya manusia (SDM) mereka, agar mampu memberikan solusi bagi keputusan yang akan diambil.

Beberapa hal tersebutlah yang membedakan antara manajemen pengetahuan dengan beberapa pendekatan lainnya. Dimana di sini, nantinya yang dikelola dalam sistem informasi, tidak hanya data dan informasi, tetapi pengetahuan dari para penggunanya juga akan dikelola dengan baik dalam sistem. Jika pendekatan secara umum digunakan dalam pengembangan sistem informasi, maka proses transfer pengetahuan tidak akan dapat berjalan dengan baik dan beberapa permasalahan internal yang terjadi akan membuat sistem informasi menjadi tidak berjalan dengan sempurna. (heyu)

~ oleh siheyu di/pada Mei 13, 2008.

Tinggalkan Balasan